Fakta Seputar Desa Penglipuran Di Bali Yang Belum Banyak Diketahui

7 bulan lalu, by blogunik

Desa Penglipuran merupakan salah satu desa yang ada di Bali dimana menjadi desa wsiata yang banyak dikunjungi para wisatawan. Desa Penglipuran ini berlokasi dikawasan Bangli tepatnya di Jalan Rambutan, Desa Penglipuran. Desa ini didapuk menjadi salah satu dari tiga desa terbersih di dunia, dengan luas desa 112 hektar yang terdiri dari 12 hektar area rumah penduduk, 49 hektar area lada dan 37 hektar area hutan bambu. Selain menjadi Desa terbersih, Desa Penglipuran juga menjadi salah satu Desa terindah di Indonesia. Tidak hanya suasana yang sejuk dan damai di desa ini juga kamu bisa menemukan beberapa fakta seputaran desa Penglipuran, berikut ini faktanya

1. Menganut Falsafah Kalapatra

Fakta Seputar Desa Penglipuran Yang Belum Banyak Diketahui

Photo via : http://www.bali-indonesia.com

Meskipun Desa Penglipuran sudah menjadi dasar konservasi mulai dari tahun 1980-an, Desa Penglipuran tetap menjaga tradisi serta budaya yang mereka miliki, namun mereka menganut falsafah Kalapatra. I Wayan Supat mengatakan falsafah dari masayarakat adat Penglipuran yang mana mereka tidak kaku untuk melihat budaya orang lain. Dalam kata lain, mereka tidak seperti desa adat pada umumnya yang sering tertutup untuk menerima budaya orang lain. Desa ini sangat terbuka serta orang-orang yang ada di dalamnya bisa menikmati budaya orang lain. Dia juga mengatakan bahwa ada sekitar 70 anak yang saat ini sedang bekerja di luar negeri. Kebanyakan dari mereka yang bekerja di luar negeri sudah tidak menginginkan bekerja untuk menjadi petani. Tetapi dia yakin setelah umut 50 tahun mereka yang tidak ingin menjadi petani akan kembali ke desa dan tetap menjadi petani.

2. Menganut Falsafah Tri Hita Karana

Fakta Seputar Desa Penglipuran Yang Belum Banyak Diketahui

Photo via : http://blog.kura2guide.com

Tak hanya menunjung tinggi kerukunan dan kebersamaan antar warga, masyarakat Desa Penglipuran juga menjunjung tinggi falsafah hiup Tri Hita Karana. Dimana sebuah falsafah yang senantiasa menjaga keharmonisan dalam relasi antar sesana manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan. Meskipun banyak generasi penerus desa Penglipuran yang menempuh pendidikan formal hingga ke tingkat Universitas, namun mereka tetap diajarkan untuk selalu melestarikan tradisi yang diwariskan para leluhurnya.

3. Falsafah Tata Ruang Tri Mandala

Fakta Seputar Desa Penglipuran Yang Belum Banyak Diketahui

Photo via : https://www.vilondo.com

Selain falsafah Tri Hita Karana, Desa Penglipuran juga memiliki falsafah Tri Mandala. Arti dari Tri yaitu tiga dan Mandala artinya zona, jadi Tri Mandala secara harfiah berarti tiga zona yang mana mempunyai tingkatan fungsi serta tingkat kesucian yang berbeda-beda. Secara makro Desa Penglipuran memiliki orientasu Utara dan Selatan yang mana orientasi Utara merupakan paling tinggi. Dengan topografi yang melereng tersebut merupakan tempat ibadah dan merupakan zona utama yaitu Mandala, kawasan ini kerap diyakini sebagai tanah Tuhan yang merupakan tempat untuk berdoa. Lalu merendah ke zona 9 hektar yang merupakan kawasan pemukiman penduduk desa Penglipuran yaitu madya Mandala. Madya Mandala adalah ruangan manusia dan yang paling bawah adalah kawasan nista mandala nista adalah zona kuburan. Jadi kesimpulannya konsep di perkarangan rumah masyarakat Penglipuran yaitu yang utama Mnadala tempat untuk pemujaan keluarga, madya Mandala yaitu rumah keluarga dan nisata Mandala itu biasanya toilet.

4. Larangan Poligami

Photo via : http://amazingbali2k16.blogspot.com/

Desa Penglipuran dengan tegas melarang poligami, kaum laki-laki tidak diperkenankan mengangkat istri lebih dari satu. Jika mereka melanggar aturan adat, mereka tidak bisa lagi tinggal bersama masyarakat di desa, melainkan diasingkan di Karang Memadu yang berada di selatan rumah penduduk. Sanksi sosial yang diberikan cukup berat, salah satunya tidak boleh bergabung melaksanakan upacara adat dengan masyarakat, dilarang masuk Pura mana pun di Penglipuran, dilarang melintasi perempatan desa di bagian utara dan dikucilkan oleh masyarakat. Karang Memadu ini tempat khusus bagi yang beristri lebih dari satu dan luas lahan yang disiapkan sekitar 921 meter. Tempat ini terpisah dengan tembok tinggi dengan akses jalan sempit menuju lokasi. Selain itu, menurut aturan pihak desa akan membuatkan rumah sepetak untuk pasangan yang berpoligami di Karang Memadu. Laki-laki bersama istri-istri dan keturunannya hanya boleh tinggal disana.

5. Hutan Bambu Pelindung Desa

Photo via : https://twitter.com/michaelturtle

Sebagian besar dari desa Penglipuran yaitu sekitar 40% atau 40 hektar dari jumlah luas wilayah desa sekitar 112 hektar merupakan hutan bambu. Hutan bambu ini memang sengaja dibiarkan tumbuh mengelilingi desa Penglipuran dan menjadi kawasan resapan. Tak hanya itu saja, hutan bambu yang dibiarkan tumbuh ini juga menjadi manifestasi bahwa masyarakat adat Penglipuran terus menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam.

6. Menginap Di Rumah Warga

Photo via : https://www.getaroom.com.au

Desa Penglipuran juga menyediakan penginapan untuk kamu yang ingin berlama-lama di desa ini. Beberapa rumah penduduk juga telah dijadikan sebagai homestay yang bisa dijadikan tempat menginap bagi para pengunjung. Pastinya akan banyak pengalaman unik yang bisa kamu dapatkan saat menginap di rumah penduduk salah satunya menyicipi dan menyaksikan pembuatan kuliner khas Desa Penglipuran. Selain itu, para tamu akan menemukan banyak budaya adiluhung masyarakat adat desa yang mungkin tidak banyak orang tahu. Untuk menginap disini kamu dikenakan biaya Rp. 500 ribu/ malam, harga ini sudah termasuk beragam fasilitas dan sarapan pagi.

7. Mata Pencaharian Desa Penglipuran

Photo via : http://luhsrioktaviani.blogspot.com/

Pada tahun 2002 sebanyak 426 orang dari Desa Penglipuran menyelesaikan pendidikan SD-nya, sedangkan 91 orang memiliki jenjang pendidikan sampai SMP, 156 orang menamatkan SMA dan 68 orang menyelesaikan pendidikannya hingga perguruan tinggi. Pekerjaan yang banyak dilakukan di Desa Penglipuran ini yaitu petani. Sebesar 140 orang bekerja sebagai petani, kemudian terbanyak kedua masyarakatnya bekerja menjadi pegawai swasta sedangkan sisanya terbagi antara PNS/ABRI, pedagang, peternak, pengerajin dan buruh.

8. Pernikahan Di Desa Penglipuran

Photo via : https://www.bridestory.com

Pernikahan dan jalinan garis keturunan bagi masyarakat Desa Penglipuran adalah sesuatu yang tenget sehingga sangat ditaati oleh seluruh masyarakat. Mayoritas penduduk Desa Penglipuran melakukan pernikahan dengan sesama warga desa. Sehingga sebagian besar penduduk masih terikat hubungan darah satu sama lain. Jika terdapat laki-laki dari Desa Penglipuran yang menikahi gadis dari keluarga diluar warga Penglipuran maka dia tetap melakukan kewajiban yang dimilikinya sebagai warga Desa Penglipuran.

Itu dia guys beberapa fakta menarik tentang Desa Penglipuran di Bali yang belum banyak diketahui. Jadi jika kalian ke Bali jangan sampai gak mampir ke Desa penglipuran ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait