Kisah Hidup J.K. Rowling Yang Inspiratif, Hingga Sukses Dengan Harry Potternya

4 bulan lalu, by blogunik

Siapa sih yang gak tau film Harry Potter? Film bertema sihir satu ini memang sangat populer dari pertama kali dirilis tahun 1997 silam. Bahkan setelah penayangan seri terakhirnya pada tahun 2007 lalu, film ini masih sangat seru untuk ditonton bahkan sampai saat ini. Kepopuleran film Harry Potter memang sangat mendunia, para pemain, atribut dan latar belakang film bahkan masih sangat melekat dihati para penonton. Bukan hanya itu, mantra-mantra sihir yang dikeluarkan sepanjang film juga masih diingat jelas oleh para penggemarnya.

Bisa dikatakan film Harry Potter adalah salah satu film legendaris yang amat populer. Hampir tak ada yang tak tau film bertema sihir klasik satu ini. Meskipun film ini sudah berakhir 12 tahun lalu, namu penggemar Harry Potter masihlah mendunia. Bahkan banyak hal-hal yang berbau Harry Potter dijual di berbagai negara.

Kesuksesan film Harry Potter tentu tak bisa lepas dari pengaruh besar sang penulis novel Harry Potter yakni J.K. Rowling. Yup, tanpa adanya karya tulis J.K. Rowling, tentunya kita tidak akan pernah tahu akan adanya Hogwarts, kita tidak tahu apa itu Gryffindor, kita juga tidak akan tau Harry Potter, Hermione Granger, Ron Weasley dan para tokoh dalam film sihir tersebut. Sebab dari imajinasi jenius J.K. Rowling lah, kisah Harry Potter itu berawal.

Sebelum diadaptasi menjadi sebuah Film Mega Box Office, Harry Potter merupakan sebuah judul novel melegenda yang ditulis oleh J.K. Rowling. Dan novel tersebut membawa berkah buat J.K. Rowling yang menjadikannya penulis terkaya saat ini. Pasalnya novel-novel tersebut telah diterjemahkan ke dalam 73 bahasa yang berbeda dan terjual lebih dari 450 juta kopi. Buku-buku Harry Potter bahkan telah tercatat sebagai seri buku terlaris sepanjang sejarah.

Sebagai seorang penulis yang sangat terkenal didunia, sifat kepribadian yang khas dari J.K. Rowling juga tersirat dalam setiap karyanya, diantaranya adalah ketekunan, kepemimpinan dan komunikasi yang efektif. Sebagai penulis yang sukses, tentunya J.K. Rowling mempunyai kisah perjuangan hidup yang sangat inspiratif yang patut untuk ditiru. Seperti apa kisah inspiratif dari penulis novel legendaris satu ini? Check this out guys!

1. Riwayat hidup J.K. Rowling

Meskipun banyak yang menyebut penulis ini dengan sebutan J.K Rowling, namun sebenarnya nama asli J.K Rowling adalah Joanne Kathleen Rowling. J.K Rowling akrab disapa dengan panggilan Jo, sementara J.K Rowling adalah nama pena yang membuat dirinya banyak dikenal oleh orang. J.K Rowling mengambil J.K sebagai nama pena-nya yang menggabungkan nama neneknya, Kathleen, sebagai nama tengahnya.

J.K Rowling alias Jo, lahir di Rumah Sakit Umum Yate, Inggris, 31 Juli 1965. Ia merupakan anak dari pasangan Peter James dan Anne Rowling. J.K Rowling juga memiliki adik perempuan yang 2 tahun lebih muda darinya bernama Dianne yang akrab disapanya Dee.

Ayahnya merupakan seorang insinyur pesawat terbang di pabrik Rolls Royce di Bristol dan ibunya, Anne yang berdarah setengah Perancis dan berdarah setengah Skotlandia, adalah seorang teknisi sains di departemen Kimia di Wyedean Comprehensive.

Kedua orangtua J.K Rowling adalah orang London. Mereka bertemu satu sama lain di kereta saat bepergian dari stasiun King’s Cross ke Arbroath di Skotlandia, dimana pada saat itu keduanya berusia delapan belas tahun.

Kala itu, Ayahnya akan bergabung dengan Royal Navy, sedangkan ibunya pergi untuk bergabung dengan Women’s Royal Naval Service. Mengingat kejadian saat itu, Anne kedinginan, dan Peter James Rowling menawarinya setengah bagian di mantelnya. Setahun kemudian, mereka menikah dan segera mereka meninggalkan dinas Angkatan Laut dan pindah ke pinggiran kota Bristol, di Barat Inggris.

Pada tahun 1969, empat tahun setelah kelahiran J.K Rowling, keluarganya pindah ke desa terdekat bernama Winterbourne, sebuh desa yang letaknya tidak jauh dari rumahnya dulu. Di sana ia bertemu dengan seorang anak yang bernama Potter dan mereka menjadi sahabat. J.K Rowling berkata bahwa sampai saat ini ia tidak bisa melupakan anak tersebut. J.K Rowling kecil adalah seorang gadis kecil yang berbadan gemuk dan mengenakan kacamata dan ia juga senang menulis dan gemar membaca buku.

Lalu saat J.K Rowling berusia 9 tahun keluarga Rowling pindah lagi ke Tutshill, South Wales. Ia bersekolah di St.Michael’s Primary School. Pada saat remaja bibi Rowling memberinya salinan otobiografi tua karya Jessica Mitford, Hons and rebels. Setelah membaca buku itu J.K Rowling mulai mengidolakan Mitford dan membaca karya-karyanya.

J.K lalu berekolah di Sekolah Menegah Wydeyan. Setelah lulus dari Wydeyan J.K ingin melanjutkan studinya ke Universita Oxford namun ia gagal, akhirnya ia masuk ke Universitas Exeter di Inggris dan mengambil jurusan bahasa Perancis selama 4 tahun, dan ia menjadi guru bahasa Inggris ditahun terakhir kuliahnya. Saat berkuliah di Exeter ia banyak menghabiskan waktunya untuk membaca cerita klasik, bahkan ia seringkali melewati batas waktu peminjaman buku sehingga didenda £ 50. Cerita klasik yng ia baca inilah yang berguna pada penciptaan mantra-mantra novel Harry Potter yang beberapa diantaranya berbasis bahasa latin. J.K lalu melanjutkan studinya di Paris selama setahun dan lulus pada 1990. Lalu ia kembali ke london dan bekerja sebagai peneliti dan sekretaris billingual di Amnesty Internasional.

photo via : www.pastiseru.net

Menyukai sastra berkat sering diceritakan dongeng oleh sang ibu semasa kecilnya

J.K. Rowling menyukai sastra berkat ibunya yang memberikan seluruh waktunya untuk keluarga. Ibunya berharap menjadi seorang ibu yang dapat memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anaknya. Anne Rowling sang ibu membacakan berbagai buku kepada anak-anaknya semenjak mereka masih kecil. Inilah yang membuat J.K. Rowling memiliki kemampuan untuk berimajinasi dan juga menceritakan kembali setiap imajinasi yang bermain dalam pikirannya.

Saat sekolah dasar, J.K. Rowling disekolahkan di St. Michael yang didirikan oleh ahli abolisionis, William Wilberforce dan Hannah More, seorang pendidik yang menerapkan sistem pembaharuan. Sejak sekolah dasar, J.K. Rowling sudah menyadari akan minatnya dalam buku bacaan dan juga bahasa Inggris. Namun, ia mengalami sedikit rasa tidak nyaman ketika salah seorang guru matematikanya yang bernama Mrs. Morgan menempatkannya di sisi kanan kelas sebagai anak-anak yang kurang pandai, padahal ia menyadari bahwa dirinya termasuk anak yang cerdas.

Pengalamannya ini membuat J.K. Rowling cukup frustasi. Ketika dewasa, ia menyadari bahwa posisinya waktu itu seperti karakter imajinasinya, Severus Snape dalam novel serial Harry Potter. Di samping hal-hal yang membuatnya frustasi di kelas, ternyata ada beberapa guru yang membuatnya sangat bangga dan senang. Mereka selalu mendorong serta memberi dukungan positif kepada J.K. Rowling atas bakat menulisnya yang imajinatif, inspiratif dan juga menarik. Beberapa guru membuatnya semakin bangga atas bakatnya ketika mereka meminta J.K. Rowling membacakan karya tulisannya yang menarik di depan kelas, di depan seluruh teman-teman sekelasnya.

J.K. Rowling selalu mengingat momen bahagia ketika ia diberi kesempatan untuk membacakan karyanya di depan kelas, termasuk ketika beberapa guru memberi motivasi bahwa J.K. Rowling mampu melakukannya dengan sangat baik. Di masa kecilnya, J.K. Rowling dikenal oleh teman-temannya sebagai anak kecil yang tidak mudah bergaul, penyendiri dan hidup dalam sebuah fantasi dengan setiap tulisan dalam buku catatan pribadinya.

Menulis kisah pertamannya saat usia 6 tahun

Itu adalah dongeng tentang seekor kelinci, yang disebut Rabbit, yang diceritakan menderita campak. Dalam dongeng yang ia buat, teman-teman Rabbit datang mengunjunginya, diantaranya seekor lebah raksasa, yang disebut Miss Bee. Ia mendongengkan kisah pertamanya pada sang adik yaitu Dee.

photo via : http://www.cerpen.co.id

Masa remaja kurang menyenangkan

Masa kecilnya sebagai seorang novelis cilik ia lewati dengan sangat bahagia. Ia mengalami masa kecil yang tenang dan membahagiakan yang ia habiskan bersama dengan orangtua yang peduli, adik kesayangan dan juga neneknya. J.K sangat senang belajar di sekolah. Saat itu, dia belajar di Sekolah Dasar St. Michael dan menyukai pemodelan tembikar tanah liat, melukis dan belajar sejarah sastra. Namun J.K Rowling mengakui bahwa masa remajanya bukanlah masa yang menyenangkan dengan kata lain kurang bahagia.

Hal itu bermula saat usianya menginjak usia 15 tahun. Dimana ia dan keluarganya pindah ke tempat lain sehingga ia merindukan beberapa teman masa kecilnya. Tak berselang lama, neneknya meninggal dunia dan dilanjutkan beberapa kejadian keretakan dalam keluarga dimana hubungannya dengan sang ayah yang memburuk. Selain itu, ibunya juga mengalami sakit parah akibat Multiple Sclerosis. Multiple sclerosis (MS) atau sklerosis ganda sendiri adalah penyakit progresif yang muncul akibat sistem kekebalan tubuh yang secara keliru menyerang selaput pelindung saraf (mielin) dalam otak dan saraf tulang belakang. Saraf-saraf yang rusak kemudian akan mengeras dan membentuk jaringan parut atau sklerosis. Kerusakan mielin ini akan menghalangi sinyal-sinyal persarafan yang dikirim melalui otak. Akibatnya komunikasi antara otak dengan bagian-bagian tubuh yang lain akan terganggu.

Setiap tahunnya, kondisi ibunya yakni Anne Rowling semakin memburuk walaupun pengobatan secara medis tetap dilakukan. Kondisi ini membuat keadaan keluarga J.K. Rowling semakin sulit. Menurut J.K. Rowling ini adalah cobaan terbesar dalam hidupnya. Hingga pada akhirnya, Ibunya, Anne Rowling meninggal pada tanggal 30 Desember 1990 pada usia 45 tahun karena penyakit parah yang dideritanya semenjak J.K. Rowling berusia 15 tahun. J.K. Rowling merasa depresi setelah kematian dari ibunya yang sangat ia sayangi.

Menemukan ide Harry Potter saat duduk diddalam kereta

Pada 1990, saat dirinya kembali ke London dengan kereta api, gagasan tentang Novel Harry Potter tiba-tiba masuk ke dalam pikirannya selama perjalanan itu. J.K. Rowling tidak tahu mengapa atau apa yang memicunya memiliki imajinasi seperti itu. Namun, dia melihat keseluruhan cerita tentang novel Harry Potter dan sekolah penyihir yang ternyata sangat menyita perhatian dunia. Saat itu, dirinya memiliki sebuah gagasan tentang seorang anak laki-laki (Harry Potter) yang tidak tahu bahwa dia adalah seorang penyihir hingga akhirnya dia diundang ke sekolah penyihir (Hogwarts). Saat kembali ke rumah, J.K. Rowling segera duduk di mejanya dan mulai menulis.

Namun pada suatu hari apartemen tempat tinggalnya mengalami kerampokan. Pencuri mengambil banyak barang kenangan dari ibunya, tapi untungnya mereka tidak mencuri kotak sepatu yang terisi penuh dengan garis besar cerita novel “Harry Potter.” J.K. Rowling tahu bahwa sketsa tersebut adalah hartanya yang sangat berharga.

photo via : www.nationalgeographic.com

Pindah ke Portugal, menjadi guru bahasa Inggris dan menikah hingga bercerai

Sembilan bulan setelah kematian ibunya, pada tahun 1991 dimana usianya menginjak 21 tahun, J.K pindah ke Portugal untuk menjadi guru bagasa Inggris. Di Negara tersebut juga ia menemukan tambatan hatinya yang bernama Jorge Arantes yang merupakan seorang wartawan Portugis. J.K dan Jorge Arantes lantas menikah pada Oktober 1992. Di negara tersebut juga J.K. Rowlingmenulis tiga bab pertama dari novel “Harry Potter dan Batu Bertuah”.

Suaminya, Jorge Arantes sempat menjadi pengangguran dan membuat J.K. Rowling harus bekerja hingga kelahiran anak perempuan mereka yang bernama, Jessica Isabel Rowling Arantes yang lahir pada tanggal 27 Juli 1993 di Portugal. Masalah keluarganya semakin runyam setelah suaminya sempat melakukan perbuatan kasar terhadapnya dan mengusirnya dari rumah. Hingga pada tahun 1993 pasangan Arantes-Rowling resmi bercerai setelah kelahiran anak mereka.

J.K Rowling sempat didiagnosis menderita depresi klinis berniat untuk bunuh diri.

Setelah berpisah dengan Jorge Arantes, J.K. Rowling memutuskan kembali ke Inggris dan menetap di Edinburgh, di rumah adiknya, Dianne Rowling dengan membawa Jessica dan koper berisi 3 bab pertama Harry Potter dan Batu Bertuah. Dianne Rowling adalah satu-satunya orang yang mau mendengarkan masalah J.K. Rowling dan orang yang dianggap berbaik hati ketika ia sedang menghadapi masalah yang berat.

Sebagai orangtua tunggal atas putrinya, ia masih bersyukur tidak menjadi seorang tuna wisma. Ia juga bersyukur masih bisa pulang ke kampung halamannya di Inggris bersama dengan putri semata wayangnya.
Selama periode terberatnya tersebut, J.K. Rowling didiagnosis menderita depresi klinis dan membuatnya berniat untuk bunuh diri.

Penyakitnya membantunya menciptakan karakter yang dikenal sebagai Dementor, makhluk gelap, memberi makan pada kebahagiaan manusia, sosok yang diperkenalkan di Harry Potter dan Tawanan Penjara Azkaban, novel ketiga dalam serial Harry Potter. Beberapa bulan kemudian, J.K. Rowling memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen kecil di Edinburgh. Menjadi ibu rumah tangga tunggal bagi anaknya dan hampir melarat, dia terpaksa hidup dengan tunjangan negara.

J.K. Rowling menerima £70 per minggu, yang ia habiskan untuk makanan murah dan beberapa pakaian untuk Jessica, anaknya. J.K. Rowling sangat malu dengan situasi yang menyedihkan itu. Untuk meringankan beban pikirannya, J.K. Rowling setiap hari selalu pergi berjalan-jalan bersama putrinya. Hal itu ia lakukan juga agar putrinya bisa tidur setelah perjalannya itu. Sambil berjalan-jalan, terkadang ia mampir di kedai kopi di Nicolson’s Café, sebuah kedai kopi milik saudara iparnya yang bernama Roger Moore atau di Elephant House. Secangkir kopi juga menemaninya dalam mengerjakan novel Harry Potter and The Sorcerer’s Stone

photo via : beinspiredchannel.com

Tidak memiliki fasilitas hingga mengetik ulang tulisan yang sama hingga 15 kali

Pada tahun 1995, akhirnya setelah 5 tahun, rampunglah buku pertama novel Harry Potter and The Sorcerer’s Stone. J.K. Rowling pun sudah memiliki imajinasi tentang bagaimana seluruh seri kisah dari buku imajinasinya tersebut. Setelah menyelesaikan cerita dari bab terakhir novelnya tersebut, J.K. Rowling lantas menceritakan segalanya kepada adiknya, Dianne Rowling. Mendengar keseluruhan ceritanya, sang adik merasa bahwa novel karyanya itu sangat hebat dan ia menyukainya.

Saat melihat ketertarikan dari sang adik akan cerita dari novel karyanya itu, J.K. Rowling lantas memiliki ide untuk mempublikasikan kepada khalayak umum. J.K. Rowling mulai mencetak beberapa bab dari novelnya, memasukkan ke dalam map atau folder, kemudian mengirimkannya kepada beberapa agen literatur sastra. Ia membuat ulang buku novel pertamanya itu selama 15 kali. Pasalnya ia tak mempunyai fasilitas yang memadai. Ia tidak memiliki komputer, dan hanya memiliki mesin tik tua. Ia juga tak mempunyai uang, bahkan hanya untuk membayar foto kopi. Maka ia terpaksa mengetik ulang naskah yang sama hingga beberapa kali agar bisa diserahkan ke beberapa penerbit.

Ditolak banyak penerbit

Setelah J.K. Rowling mengirim setiap tulisannya itu kepada beberapa agen literatur sastra, banyak tanggapan yang membuatnya menjadi patah semangat. Ada yang mengatakan bahwa cerita novelnya terlalu panjang, cerita novelnya tidak cocok untuk anak-anak, anak-anak tidak akan suka dengan cerita novel tersebut, dan lain sebagainya. Mendengar hal itu, adiknya, Dianne Rowling memberi nasihat bahwa J.K. Rowling pasti bisa dan jangan pernah menyerah. Ia menyerahkan naskahnya ke beberapa penerbit, sebanyak 12 penerbit menolak naskah yang ia buat.

Namun J.K. Rowling dan adiknya tak pantang menyerah, mereka mengirimkan karya tulisan tersebut kepada Christopher Little, salah satu agen literatur sastra yang cukup terkenal. Namun, ketika Christopher Little membaca bahwa karya tersebut untuk anak-anak, ia tidak begitu tertarik sehingga ia hanya meninggalkannya sebagai arsip. Beruntungnya, salah satu pegawai di tempat itu melihat arsip tersebut dan membaca sepenggal dari cerita novel Harry Potter. Ia merasa tertarik dengan plot atau alur dari cerita dalam novel karya J.K. Rowling tersebut.

Pegawai tersebut memberanikan diri untuk menaruh arsip tersebut di atas meja Christopher Little sekali lagi. Setelah membacanya, Christopher Little mulai tertarik dengan isi cerita dalam novel Harry Potter tersebut. Christopher Little lantas memutuskan untuk mempromosikan buku novel karya J.K. Rowling tersebut.

photo via : the-leaky-cauldron

Mendapatkan penerbit pertamanya

Pada bulan Agustus 1996, ketika J.K. Rowling sudah mulai putus asa, akhirnya buku karyanya itu mendapatkan “lampu hijau” dengan penawaran harga sebesar £1.500 pembayaran di muka oleh Barry Cunningham, seorang editor dari Bloomsbury, penerbit di London. Christopher Little menelepon J.K. Rowling dan menginformasikan bahwa penerbit Bloomsbury telah mengajukan penawaran. Tentunya kabar tersebut membuatnya sangat senang dan terharu. Namun meskipun Perusahaan Bloomsbury setuju untuk menerbitkan buku tersebut, Barry Cunningham sang editor mengatakan bahwa dia menyarankan J.K. Rowling untuk mencari pekerjaan lain karena dia hanya memiliki sedikit kesempatan untuk menghasilkan uang dari buku bacaan anak-anak. Setelah itu, J.K. Rowling mendapat pekerjaan sebagai guru bahasa Perancis. Pada tahun 1997, Rowling menerima hibah sebesar £8.000 atau sebesar US$12.500 dari Dewan Kesenian Skotlandia yang membuat dia untuk terus menulis.

Cetakan buku pertama dan awal kesuksesannya

Pada bulan Juni 1997, Perusahaan Bloomsbury menerbitkan Harry Potter and the Philosopher’s Stone dengan jumlah cetakan awal sebanyak 1.000 eksemplar. 500 eksemplar dan didistribusikan ke perpustakaan. Hasil penjualan buku tersebut diperkirakan antara £16.000 (US$25.000) dan £25.000 (US$39.000). Setelah buku karyanya dicetak, tiba harinya, dimana J.K. Rowlingmelakukan presentasi kepada para pengunjung toko buku dan membacakan beberapa bagian dari buku karyanya tersebut. Hanya beberapa orang yang datang untuk mendengarkan penulis yang tidak dikenal itu (pada saat itu). Meski begitu, J.K. Rowling merasa dirinya mengalami kemajuan dalam hidupnya.

Namun tak lama setelahnya akhirnya buku Harry Potter and the Philosopher’s Stone itu booming. Lima bulan kemudian, buku ini memenangkan penghargaan pertamanya, sebuah Penghargaan Buku Nestlé Smarties. Pada bulan Februari, novel ini memenangkan British Book Award dengan penghargaan sebagai Children’s Book of the Year. Pada awal tahun 1998, selama pelelangan yang digelar di Amerika Serikat dalam Scholastic Inc., buku karya J.K. Rowling tersebut memenangkan hak untuk menerbitkan novelnya dan meraih keuntungan US$105.000.

Saat mendengar begitu antusiasnya para pembaca di seluruh dunia J.K. Rowling merasa tidak percaya. Pada bulan Oktober 1998, Scholastic Inc. mendistribusikan buku Harry Potter and the Philosopher’s Stone di Amerika Serikat dengan judul Harry Potter and the Sorcerer’s Stone. Setelah menerima uang dari penjualan Scholastic Inc., barang yang dibeli oleh J.K. Rowling adalah apartemen baru di 19 Hazelbank Terrace di daerah bergengsi Edinburgh dan pindah ke sana bersama putrinya.

photo via : http://theconversation.com

Novel Harry Potter laku keras

J.K. Rowling menjadi sorotan kesusasteraan internasional pada tahun 1999 saat tiga seri pertama novel remaja Harry Potter mengambil alih tiga tempat teratas dalam daftar “New York Times best-seller” setelah memperoleh peringkat yang sama di Britania Raya. Kemudian, saat seri ke-4, Harry Potter dan Piala Api diterbitkan pada bulan Juli tahun 2000, seri ini menjadi buku paling laris penjualannya dalam sejarah. Menjelang musim panas pada tahun 2000, tiga buku pertama Harry Potter : Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, dan Harry Potter dan Tawanan Azkaban telah memperoleh keuntungan lebih kurang 480 juta dolar Amerika Serikat dalam masa tiga tahun dengan cetakan 35 juta naskah dalam 35 bahasa.

Pada Juli 2000, Harry Potter dan Piala Api telah dicetak untuk pertama kalinya sebanyak 5,3 juta naskah dengan pesanan tambahan sebanyak 1,8 juta naskah. Buku kelimanya, Harry Potter dan Orde Phoenix telah mulai dipasarkan pada 21 Juni 2003, serentak di seluruh dunia setelah lebih kurang 3 tahun buku keempat diterbitkan. Buku keenam, Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran juga telah diluncurkan secara resmi pada 16 Juli 2005.

Dari Novel hingga diadaptasi kesebuah layar lebar

Kepopuleran novel Harry Potter karya J.K. Rowlingini membuat Warner Bros tertarik. Warner Bros menaruh perhatian besar pada keinginan dan pemikiran J.K. Rowling saat menyusun kontraknya dalam memfilmkan hasil karyanya tersebut. Namun, J.K. Rowling memiliki beberapa ketentuan pokok. Salah satunya adalah film-film itu harus dibuat di Inggris dengan para pemeran asal Inggris. J.K. Rowling juga meminta Coca-Cola untuk menyumbangkan dana sebesar US$18 juta kepada badan amal Amerika Reading Fundamental. Dunia imajinasi sihir telah “diciptakan” oleh J.K. Rowling untuk syuting film bukunya tersebut. Sekolah Ilmu Sihir Hogwarts dimodelkan oleh keahlian komputer, namun nuansa interior dimainkan secara nyata, di enam wilayah berbeda di Inggris. Jika melihat-lihat foto biara abad pertengahan di Lacock yang berada di area Bristol, sangat mudah untuk mengenali interior dari Hogwarts.

Hingga pada November 2001, film layar lebar dari novel pertamanya yakni Harry Potter and the Sorcerer’s Stone resmi dirilis. Pada awal minggu pembukaannya di Amerika Serikat, telah memecahkan rekor dengan keuntungan sekitar 93,5 juta dolar Amerika Serikat (20 juta dolar lebih banyak dari pemegang rekor terdahulu yaitu film The Lost World : Jurassic Park (1999). Sekuel film seri ini, Harry Potter and the Chamber of Secrets, mulai ditayangkan pada 15 November 2002 dan menjadi film ketiga untuk pembukaan ujung minggu terbaik dalam sejarah pecah panggung. Film ketiga, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban telah mulai ditayangkan pada 4 Juni 2004.

photo via : www.liveinternet.ru

J.K Rowling Menikah Lagi

Penghujung Desember 2001, J.K Rowling menyudahi masa lajangnya dengan menikah lagi dengan Dr. Neil Murray di Skotlandia. Dari pernikahan keduanya ini, ia dikaruniai 2 orang anak. Anak lelaki pertamanya bernama David Gordon Rowling Murray, dilahirkan pada 24 Maret 2003, di Royal Infirmary, Edinburgh. Dan Putri keduanya Mackenzie Jean Rowling Murray lahir pada 23 Januari 2005, tepat setelah J.K. Rowling mengumumkan buku keenam seri Harry Potter.

photo via : www.latimes.com

Menjadi salah satu wanita terkaya didunia

Perjalanan hidup J.K Rowling yang penuh cobaan, membuat ia menjadi salah satu penulis novel paling terkenal di dunia. Selain itu, berkat Novel Harry Potternya tersebut ia sukses menjadi salah satu wanita terkaya di dunia dengan kekayaan bersih sekitar $ 1 miliar dollar AS atau sekitar 14.8 triliun Rupiah pada tahun 2018.

Tentunya perjalanan kisah hidup J.K Rowling ini dapat memberikan motivasi dalam meraih apa yang kita impikan. Meskipun banyak kesulitan dalam perjalanannya, tapi setiap kerikil tersebut tidak bisa menghancurkan semangat dan kehendak untuk terus maju dan meraih mimpinya. Kisah inspiratif dari J.K Rowling ini adalah contoh nyata yang sempurna tentang betapa pentingnya semangat untuk terus memperjuangkan kesuksesan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *