Miris!! Beginilah Kehidupan Manusia Warnet (Cyber-Homeless) di Jepang

2 tahun lalu, by blogunik

Sobat pernahkah kalian bermalam di sebuah warnet?? Untuk mengerjakan tugas ataupun menyelesaikan game online yang lagi seru-serunya mungkin? Kalau kalian bermalam diwarnet hanya sehari dan itupun untuk menyelesaikan tugas atau game, mungkin masih wajar bukan? Namun pernahkah kalian berpikir untuk menginap di warnet untuk jangka waktu yang panjang? Karena itulah yang terjadi di negara Jepang sana, fenomena orang-orang yang tidur dan ringgal dijepang akhir-akhir ini marak terjadi di Jepang. Orang-orang Jepang yang tinggal di warnet disebut dengan Net café refugees, atau cyber-homeless.

photo via : www.kotaku.com.au

Jepang memang terkenal sebagai negara maju dengan salah satu pendapatan negara paling tinggi di dunia. Hampir seluruh penduduk Jepang terlihat makmur. Namun itu semua hanya sekedar “hampir” sobat, yang mana artinya ada beberapa penduduk yang memiliki nasib kurang beruntung untuk bertahan di negara yang maju ini.

photo via : motherboard.vice.com

Banyak yang tak tau sisi gelap yang dimiliki oleh Negara Jepang ini. Dengan biaya hidup yang begitu tinggi, masih banyak orang tak mampu menyewa tempat tinggal sehingga memilih menginap disebuah tempat yang tak seharusnya seseorang menjadikannya tempat tinggal, salah satunya adalah warnet.

photo via : pulitzercenter.org

Pada tahun 2013 lalu, seorang fotografer Jepang bernama Shiho Fukada, berusaha menggali lebih dalam tentang fenomena manusia yang tinggal di warnet ini. Salah satu yang berhasil ia wawancarai adalah Fumiya, seorang satpam muda di Tokyo yang sudah menghabiskan waktu cukup lama untuk tinggal di warnet lantaran tak mampu menyewa apartemen yang harga sewanya selangit.

photo via : http : wwno.org

Dalam wawancara tersebut Fumiya mengatakan bahwa mereka lebih memilih menyewa sebuah bilik warnet daripada menyewa sebuah apartemen, lantaran sewa apartemen disana begitu mahal, yang termurah saja berkisar 80,000 yen atau sekitar 10 juta rupiah, nah dengan harga segitu otomatis akan membuat mereka yang memiliki penghasilan setiap bulannya sekitar 100,000-150,000 yen, akan merasa tercekik apalagi harga itu belum termasuk biaya kebutuhan mereka sehari-hari.

photo via : www.visualnews.com

Namun jika mereka menginap di warnet, maka biaya tersebut dapat mereka minimalisir karena untuk biaya sebulan di warnet hanya memakan biaya sekitar 45,000 yen atau sekitar 6 juta rupiah, dan sisa gaji mereka bisa digunakan untuk keperluan lainnya.

photo via : www.dailymail.co.uk

Dibilik warnet yang luasnya tak lebih dari 2x2m inilah mereka melakukan aktifitasnya seperti layaknya dirumah. Pihak warnet memang menyediakan bilik warnet yang dilengkapi dengan futon, fasilitas kamar mandi yang cukup baik, serta dilengkapi dengan toko kecil untuk membeli makanan dan minuman ringan. Namun tetap saja jika tidur di tempat yang sempit seperti bilik warnet, dan berdekatan dengan komputer adalah hal yang tidak sehat.

photo via : keepo.me

photo via : virtoo.ru

Fenomena cyber-homeless ini ternyata sudah terjadi sejak akhir tahun 1990-an. Menurut bagian dari serikat pekerja muda di Jepang, bernama Makoto Kawazoe, mengatakan bahwa fenomena penghuni warnet terjadi pada mereka yang rata-rata bekerja sebagai pegawai paruh waktu. Yang mana artinya mereka hanya berpenghasilan kurang dari setengah penghasilan pegawai biasa. Mereka juga rata-rata dalam masa kontrak yang sangat singkat.

photo via : disposableworkers.com

Dengan pendapatan negara yang tinggi, sebenarnya masalah ini bisa dengan mudah diatasi oleh Jepang. Mereka yang menganggur akan disediakan dana untuk kehidupan sehari-hari. Namun sepertinya orang-orang Jepang sangat keras kepala dan malu untuk begantung pada orang lain. Sehingga mereka lebih memilih menjadi kuli kasar atau bekerja serabutan. Karena pekerjaan kecil inilah yang membuat mereka menurunkan standar hidup sehingga lebih memilih warnet sebagai rumahnya.

photo via : disposableworkers.com

Selain Fumiya yang memilih tinggal di warnet karena biaya sewa apartemen yang mahal, ada juga Tadayuki Sakai yang memilih tinggal diwarnet karena tekanan dari pekerjaannya. Tadayuki Sakai bukanlah orang yang berasal dari pekerja kasar dan serabutan. Dia merupakan seorang pekerja di sebuah perusahaan komputer di Jepang. Namun, karena beban pekerjaan yang diembannya sangatlah berat, dia memutuskan untuk berhenti bekerja. Dia tidak ingin kembali ke rumah, sehingga dia memilih menjadi salah satu dari “cyber-homeless”.

photo via : disposableworkers.com

Fenomena cyber-homeless ini terus berlanjut di Jepang dan disusul dengan fenomena bunuh diri akibat tekanan kerja ataupun biaya hidup yang berat. Mungkin bagi kita tak pernah terlintas untuk hidup seperti manusia warnet atau cyber-homeless, namun itulah yang terjadi di Negara Jepang. Nah bagaimana menurut kalian??

Artikel Terkait