Pelajar Swedia Tuai Pujian Dunia Berkat Gerakan Bolos Sekolah Demi Aksi Perubahan Iklim

6 bulan lalu

Perubahan iklim didunia ini memang tak dapat ditebak. Di Indonesia sendiri musim hujan kadang datang di musim kemarau ataupun sebaliknya. Bahkan masih segar diingatan kita tentang cuaca ekstrim di Australia beberapa waktu lalu yang karena saking panasnya mengakibatkan kebakaran hutan hingga jalanan aspal meleleh. Begitupula dengan cuaca ekstrim di Amerika yang yang mengalami musim salju yang amat dingin. Bahkan air mendidihpun saat dilempar ke udara langsung menjadi butiran-butiran salju.

Dua hal tersebut adalah sebagian kecil dari krisisnya iklim didunia ini. Berbagai macam dampak mematikan karena global warming juga menjadi momok yang paling menakutkan untuk para makhluk hidup didunia ini. Berkurangnya oksigen karena pencemaran udara hingga menumpuknya sampah dilautan yang membuat biota laut tersiksa merupakan kesalahan manusia sendiri yang akhirnya berdampak pada mereka.

Semua orang didunia ini pastinya mengetahui tentang hal tersebut, namun banyak dari mereka yang seolah menutup mata dan telinga mereka akan darurat iklim tanpa memikirkan anak cucu mereka di kemudian hari yang pastinya akan tersiksa dan menderita hidup di bumi yang telah darurat seperti sekarang ini.

Namun untungnya, banyak juga dari penduduk didunia ini yang sadar akan darurat iklim yang sedang mengancam planet bumi kita. Nah salah satunya adalah seorang siswi berumur 15 tahun asal Swedia yang sungguh-sungguh melakukan aksi untuk menyelamatkan bumi ini.

Ialah Greta Thunberg pelajar berumur 15 tahun dari Swedia yang bolos sekolah dan duduk di depan parlemen pada September tahun lalu karena negaranya tidak ikut menyepakati Kesepakatan Iklim Paris.

Greta Thunberg, Pelajar Swedia Yang Melakukan Gerakan Bolos Sekolah Demi Aksi Perubahan Iklim

photo via : swedesinthestates.com

Awalnya, ia bolos sekolah untuk berunjuk rasa di depan parlemen Swedia terkait pemilihan mendatang tetapi ia memutuskan untuk melanjutkannya sampai ada kemajuan yang signifikan mengenai masalah ini. Thunberg mendokumentasikan pemogokan di halaman Twitter-nya, Thunberg mendapat pengakuan internasional dan diundang untuk berbicara pada Konferensi Perubahan Iklim PBB di Katowice, Polandia, pada Desember 2018 lalu.

Saat itu, dengan disaksikan oleh dunia, remaja 15 tahun ini dengan tegas menuduh para pemimpin dunia belum cukup dewasa untuk mengatakan apa adanya tentang keadaan darurat bumi saat ini. Mereka hanya membicarakan tentang pertumbuhan ekonomi dan takut tidak menjadi populer. Menurut Thunberg pemerintah hanya berbicara tentang bergerak maju dengan ide-ide yang buruk yang justru membawa generasi penerus kedalam kekacauan. Bahkan satu-satunya hal yang masuk akal untuk dilakukan adalah untuk mendeklarasikan darurat iklim, para pemerintah justru tidak cukup dewasa untuk mengatakannya seperti apa adanya. Bahkan beban itu nantinya akan mereka serahkan kepada generasi penerus, dalam hal ini anak dan cucunya kelak.

Dalam pidatonya, Greta Thunberg mengungkapkan bahwa ia tidak peduli menjadi populer, yang ia pedulikan adalah tentang keadilan iklim dan planet yang hidup. Peradaban kita dikorbankan demi kesempatan sejumlah kecil orang untuk terus menghasilkan uang dalam jumlah besar. Biosfer kita dikorbankan sehingga orang-orang kaya di berbagai negara bisa hidup mewah. Itu sama saja bahagia diatas penderitaan orang.

Sejak saat itu, Thunberg menjadi ujung tombak gerakan remaja dan secara teratur menghadiri pemogokan hari Jumat di berbagai negara Eropa. Puluhan ribu anak di Belgia, Jerman, Swedia, Swiss, dan Australia terinspirasi untuk menggelar demonstrasi serupa di negara mereka masing-masing.

Aksi terbesar di Inggris digelar di London, Brighton, Oxford, dan Exeter. Jaringan Iklim Pelajar Inggris yang membantu mengoordinasikan aksi protes tersebut mengajukan empat tuntutan utama. Pertama, pemerintah harus mendeklarasikan kondisi darurat iklim dan memprioritaskan perlindungan kehidupan bumi, mengambil langkah aktif untuk mencapai keadilan iklim.

Kedua, pemerintah juga harus merombak kurikulum pendidikan dan mulai menyertakan pelajaran soal krisis ekologis. Ketiga, pemerintah harus memberi informasi kepada publik tentang darurat iklim dan imbauan untuk bertindak aktif dalam merespons isu tersebut. Keempat, pemerintah harus tahu bahwa kaum muda adalah kunci masa depan, sehingga penting melibatkan kaum muda dalam menentukan kebijakan negara dan menurunkan batas minimum pemilih (16 tahun).

Para siswa-siswi di Ingris berdemonstrasi di Southampton mengatakan kepeduliannya tentang masa depan yang karena akibat perubahan iklim membuat mereka banyak kehilangan. Salah satunya akan kehilangan binatang yang mereka cintai dalan 50 tahun ke depan.

Greta Thunberg, Pelajar Swedia Yang Melakukan Gerakan Bolos Sekolah Demi Aksi Perubahan Iklim

photo via : cyprus-mail.com

Namun seorang juru bicara Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan bolos sekolah berarti membuang-buang waktu pelajaran yang sudah dipersiapkan para guru yang akan sangat penting bagi pendidikan dan akan membantu menyelesaikan masalah iklim dalam jangka panjang.

Mendengar hal ini Greta Thunberg, yang menjadi pelopor aksi ini mencuit tentang protes di Inggris di akun Twitter-nya, dirinya menulis: “PM Inggris mengatakan bahwa anak-anak yang mogok sekolah ‘membuang-buang waktu pelajaran’. Itu bisa jadi masalah. “Tapi sekali lagi, para pemimpin politik telah menyia-nyiakan 30 tahun tidak bertindak. Dan itu sedikit lebih buruk.”

Melalui cuitan Greta Thunberg tersebut, aktifis berusia 15 tahun ini seakan menyindir pemerintah yang mengecam tindakan para pelajar ini sebagai tindakan yang buruk dengan menelantarkan kewajiban utama mereka yakni belajar, tanpa menyadari kalau tindakan pemerintah dengan menyia-nyiakan waktu 30 tahun terakhir untuk melakukan perubahan demi alam adalah tindakan yang lebih buruk dari sekedar bolos sekolah.

Greta Thunberg, Pelajar Swedia Yang Melakukan Gerakan Bolos Sekolah Demi Aksi Perubahan Iklim

photo via : www.commondreams.org

Sementara itu, aksi dari remaja-remaja tanggung ini memang tak main-main, bahkan jumlah peserta gerakan terus meningkat. Setiap minggu, puluhan ribu remaja dan anak muda bolos sekolah, sebagian besar pada hari Jumat yang dijuluki “Jumat demi Masa Depan.” Protes-protes itu diperkirakan akan meluas ke banyak negara pada 15 Maret 2019, menjadikannya pemogokan sekolah internasional yang terbesar.

Dikutip dari Line Today, Harian The Guardian menerbitkan surat terbuka kelompok koordinasi global. Yang mengumumkan unjuk rasa di setiap benua. Pada 15 Maret siswa-siswa Amerika diperkirakan akan bergabung dalam gerakan ini secara besar-besaran.

Atas usaha dan jerih payahnya mengkampanyekan kesadaran akan perubahan iklim dan pemanasan global, Greta Thunberg pun dinominasikan sebagai salah satu penerima Nobel Perdamaian. Hal ini disampaikan oleh salah satu anggota parlemen Norwegia Freddy Andre Ovstegard seperti yang BlogUnik kutip dari Kompas.com. Ovstefard mengatakan, tiga anggota parlemen mengajukan Greta untuk Nobel Perdamaian sebelum batas waktu 31 Januari 2019.

Nah bagaimana menurut kalian guys? Menginspirasi bukan? Apakah kalian akan mengikuti jejak Greta Thunberg?

Baca Juga