Maraknya Penyakit Difteri Hingga Menjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) Di Indonesia

    Kesehatan, Trending

Munculnya kembali penyakit difteri di Indonesia, tampaknya sedang marak dibicarakan oleh masyarakat Indonesia. Apalagi setelah ditetapkannya difteri sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa) oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Dipenghujung 2017 Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri pada anak semakin meluas dan menyebar di hampir diseluruh wilayah Indonesia. Data terbaru dari kementrian kesehatan Desember 2017, menunjukan bahwa wabah difteri sudah tersebar di 20 provinsi dan 95 kabupaten kota. Secara keseluruhan ada 622 kasus dengan sejumlah 32 orang diantaranya telah meninggal dunia.

ilustrasi via : www.babatpost.com

Namun sebenarnya apa sih yang membuat penyakit difteri ini mudah merebak ke hampir semua wilayah Indonesia??, nah ini jawabannya!

1. Belum Tersentuh Imunisasi

ilustrasi via : www.voaindonesia.com

Faktanya, masih banyak anak-anak yang belum tersentuh imunisasi, termasuk imunisasi difteri. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukan bahwa cakupan imunisasi lengkap di Indonesia baru mencapai angka 59.2%. Selain itu, catatan pada KMS atau Buku Catatan Kesehatan Anak banyak yang diisi diisi dengan baik oleh petugas kesehatan yang melakukan imunisasi dan tidak disimpan baik oleh orang tua. Nah, hal ini membuat sulit untuk mengetahui apakah imunisasi yang diberikan pada anak sudah lengkap atau belum.

2. Imunisasi Yang Tidak Lengkap

ilustrasi via : bias.sman1jember.sch.id

Riskesdas 2013 menunjukan bahwa 32.1% anak diimunisasi tidak lengkap, bahkan 8.7% tidak pernah diimunisasi. Untuk imunisasi difteri, diberikan melalui imunisasi dasar pada bayi di bawah 1 tahun sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak 1 bulan. Imunisasi lanjutan atau booster diberikan pada umur 18 bulan sebanyak 1 dosis vaksin. Anak sekolah tingkat dasar diberikan 1 dosis vakin DT di kelas 1, 1 dosis vaksin Td di kelas 2, 1 dosis vaksin Td di kelas 5.

3. Bakteri Yang Mudah Menular Dan Berbahaya

ilustrasi via : rakyatindependen.com

Salah satu yang menyebabkan diferi mudah sekali menyebar luas adalah adanya bakteri yang mudah menular dan sangat berbahaya. Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jose Rizal Latief Batubara, menjelaskan bahwa difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynobacterium diptheriae yang sangat menular dan berbahaya. Penularannya pun termasuk mudah, yaitu melalui droplet (ludah) penderita maupun karir (pembawa) nya. Penyakit ini bisa menyebabkan kematian lantaran sumbatan saluran nafas, peradangan pada lapisan dinding jantung bagian tengah, gagal ginjal, gagal nafas, dan gagal sirkulasi.

4. Gagalnya Imunisasi Membentuk Antibodi

ilustrasi via : magazine.orami.co.id

Vaksin DPT merupakan vaksin mati, sehingga untuk mempertahankan kadar antibodi tetap tinggi di atas ambang pencegahan sangat diperlukan kelengkapan ataupun pemberian imunisasi ulangan. Selain itu, penyimpanan dan transportasi vaksin mempengaruhi kualitas vaksin untuk membentuk antibodi. Terutama wilayah pelosok Indonesia yang jauh dari jangkauan, hal ini merupakan masalah besar.

5. Adanya Gerakan Anti Imunisasi

ilustrasi via : negerilaskarpelangi.com

Gerakan anti imunisasi yang marak pada tahun 2017 ini menyebabkan banyak orang tua menolak imunisasi. Penolakan tersebut berakibat pada rendahnya cakupan imunisasi. Padahal, cakupan imunisasi yang tinggi dan kualitas layanan imunisasi yang baik sangat menentukan pencegahan berbagai penyakit menular termasuk difteri.

Sementara itu Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp. A(K), Staff Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM, mengungkapkan sebagai solusi KLB difteri pemerintah mencanangkan imunisasi ORI (Outbreak Renponse Imunisasion), yang merupakan imunisasi tambahan tanpa memandang riwayat imuniasi sebelumnya. Mekanisme imumisasi ORI, jika seorang terjangkit penyakit difteri maka semua orang di desa tersebut harus di imunisasi, tanpa kecuali.

ilustrasi via : jpp.go.id

Sesuai rencana, imunisasi ulang serentak alias ORI dimulai pada tanggal 11 Desember 2017. Setelah tahap pertama selesai, tahap kedua akan dilaksanakan 11 Januari 2018 dan tahap ketiga pada 11 Juli 2018. Sasaran umur pun diperluas dari usia 1 tahun sampai 19 tahun. Imunisasi pertama akan dilakukan di 3 Provinsi yang memiliki kasus difteri paling banyak, yaitu DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Selain karena kasusnya paling banyak, kepadatan penduduk di 3 provinsi tersebut juga tinggi.

Nah Sobat Blog Unik, untuk mencegah semakin mewabahnya penyakit difteri ini, tak ada salahnya jika kita mendukung kebijakan pemerintah ini agar terselenggara dan berhasil. Untuk mencegah perluasan wabah difteri kalian dan keluarga sebaiknya ikut berpartisipasi agar wabah difteri bisa berhenti dan tidak menyebar lagi.

Recent search terms:

Facebook Comment

similar posts

+ VIDEO PILIHAN MORE >