Mengejutkan! Pengemis Ini Memiliki Sopir Pribadi Dan Penghasilan Hingga Rp. 400 ribu/Hari

4 bulan lalu

Pernah merasakan rasa sakit tapi tak berdarah gak guys? Bagi yang belum, mungkin setelah kamu mendengar kisah pengemis ini kalian akan merasakan apa yang namanya sakit tapi tak berdarah.

Bagi kalian yang sudah bekerja, coba deh jujur berapa gaji harian kalian? Bayangkan saja kamu yang udah kerja dari pagi sampai menjelang malam paling-paling digaji rata-rata sekitar Rp 80-100 ribu perhari. Namun pengemis ini bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 1,5 juta perhari guys! Wow! Sakit kan kamu yang banting tulang seharian masak kalah sama pengemis.

Nah pengemis dari Bogor ini memang sempat viral di media sosial kemarin guys! Pasalnya pengemis yang bernama Herman alias Enur disebut punya mobil mewah. Herman juga dikabarkan pulang kerja alias mengemis dijemput oleh supir pribadinya. WOW! Pengemis yang punya ciri khas bentuk hidung tak sempurna itu ternyata cukup dikenal warga Bogor karena sering melihatnya saat menjalankan aksinya.

Pengemis ini ditangkap oleh Polisi Pamong Praja pada Rabu 20 Maret 2019 kemarin. Nah Herman ini diklaim bisa mendapatkan penghasilan minimal Rp 150 ribu dalam waktu setengah jam saja guys! Menurut pengakuan sang sopir, dalam sehari Herman bisa mendapatkan penghasilan Rp. 300 ribu hingga Rp. 400 ribu. Herman juga dikabarkan memiliki mobil Toyota Fortuner dan memiliki supir pribadi. Dikutip dari Pojoksatu.id, pengemis satu ini tak tanggung-tanggung menggaji supirnya sebesar Rp 200-500 ribu perhari.

Namun Herman membantah hal tersebut, saat ditanya perihal mobil yang ia bawa saat berangkat mengemis, pria itu langsung membantah. Ia mengaku tidak memiliki mobil. Namun ia mengakui kalau saat ia berangkat dari rumahnya ke lokasi mengemis memang menggunakan mobil. Ia hanya menyewa mobil tersebut karena dirinya tidak sanggup untuk naik angkot ataupun berjalan sendiri.

photo via : www.wowkeren.com

Menantu Herman juga menepis semua kabar viral mengenai ayah mertuanya. Menurut penjelasan wanita bernama Aan Asnawati ini, semua kabar mengenai Herman tidak benar. Untuk itu, ia ingin meluruskan pemberitaan perkara Herman yang kaya raya, punya mobil mewah dan supir pribadi, hingga tiga orang istri. Aan mengatakan jika hal tersebut hanya berita itu hoax. Aan menyesalkan adanya pemberitaan miring soal kehidupan sang ayah. Menurut Aan, Herman bukannya memiliki supir pribadi, namun mobil tersebut hanya milik orang antar jemput. Rumah besar yang ditempatinya juga merupakan rumah Aan karena ia tak tega meninggalkan Herman sendirian.

Sementara itu, Selain Herman, petugas juga mengamankan seorang laki-laki bernama Maman yang diketahui adalah sopir yang sehari-hari ikut mengantar dan menjemput Nur saat mengemis.

Di hadapan petugas, Herman berdalih, bahwa mobil jenis Avanza berwarna hijau yang dinaikinya itu bukan miliknya. Katanya, mobil itu dia sewa dari seorang tetangganya. Dirinya mengaku, rata-rata dalam sehari, ia mampu mengumpulkan uang dari hasil mengemis di jalanan kurang lebih Rp 150 ribu. Pembagiannya, sambung Herman, Rp 50 ribu untuk membayar sewa mobil setengah hari, Rp 30 ribu untuk jasa sopir. Sementara, sisanya untuk kebutuhan sehari-hari. Ia mengungkapkan, alasannya menyewa mobil karena kakinya sudah tak kuat berjalan.

Dikutip dari Tribunnews, Herman menceritakan, dari tahun 1995 dirinya sudah menjadi pengemis. Saat itu, pertama kali ia mencari nafkah dengan meminta-minta di daerah Jembatan Merah, Kota Bogor. Setelah cukup lama mengemis di sana, ia sempat memutuskan berhenti mengemis. Selama tiga tahun sejak berhenti mengemis, Herman membuka praktek pengobatan di rumahnya, di kawasan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

photo via : regional.kompas.com

Namun, dua tahun ke belakang ini, ia kembali menjadi pengemis di daerah Simpang Yasmin. Faktor ekonomi disebut-sebut sebagai alasan kenapa Nur kembali mengemis. Alasannya karena penghasilan anaknya sebagai petugas kebersihan di daerah Pamulang, tak cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Bogor Azrin Syamsudin mengatakan, untuk mengetahui kebenaran tersebut, pihaknya akan melakukan home visit atau kunjungan ke kediaman Enur. Di sana, petugas sosial akan membuat berita acara dengan kepala desa setempat.

Baca Juga