Uniknya Upacara-upacara Pembakaran Jenazah Di Indonesia

2 tahun lalu, by blogunik

Indonesia memiliki beberapa suku bangsa, kematian merupakan peristiwa besar dimana di berbagai daerah di Indonesia pelaksanaannya berbeda-beda. Salah satu upacara kematian yang paling terkenal di Indonesia adalah upacara pembakaran jenazah di Bali yang sering disebut dengan Ngaben. Selain upacara ngaben, masih ada beberapa upacara pembakaran jenazah yang telah ada sejak dahulu kala. Pembakaran ini dilakukan untuk satu tujuan yaitu menyempurnakan kematian seseorang dengan segera menjadi abu dan menyatu dengan alam serta jiwa dan raganya sudah kemabali ke Sang Pencipta. Berikut ini beberapa upacara pembakaran jenazah di Indonesia :

1. Ngaben – Bali

Photo Via : kulturbangsaindonesia.blogspot.co.id

Ngaben dibagi menjadi dua jenis, yaitu Ngaben Sawa Wedana dan Ngaben Asti Wedana. Ngaben Sawa Wedana dilakukan kepada jenazah yang telah meninggal antara 3-7 hari. Biasanya jenazah akan diberikan obat agar tidak segera membusuk. Ngaben Asti Wedana dilakukan kepada jenazah yang pernah dikuburkan sebelumnya hingga terkadang sudah berwujud kerangka. Ngaben adalah upacara kematian yang terdiri dari berbagai rangkaian kegiatan yang rumit. Ngaben lebih jauh tidak hanya bermakna sebagai akhir kehidupan manusia di Bumi, Ngaben justru akan menjadi awal dari kehidupan itu sendiri. Ngaben dengan segala ritual dan tahapannya yang rumit itu ternyata memerlukan biaya yang tidak sedikit, beberapa pihak pun mencari cara untuk mengatasinya, ada yang membagi tanggungan, ada yang menunggu hingga bisa tercukupkan. Karena upacara ini tidak bisa dilakukan oleh semua penduduk Bali yang tidak memiliki kekayaan melimpah, maka dari itulah mengapa di Bali kerap diadakan ngaben massal untuk mempermudah prosesi kesempurnaan kematian.

 

2. Kremasi – Masyarakat Tionghoa

Photo Via : twitter.com

Beberapa masyarakat Tionghoa ada yang melangsungkan upacara pembakaran jenazah di krematorium. Biasanya mereka yang memiliki keyakinan Budhha akan melakukan kremasi untuk menyempurnakan jenazah. Meski demikian, ada pula masyarakat Tionghoa Buddha yang tidak melangsungkan kremasi ini karena alasan-alasan tertentu. Selain karena faktor agama, banyak masyarakat Tionghoa yang melakukan prosesi ini karena masalah feng shui atau keinginan jenazah sebelum meninggal hingga keadaan jenazah yang tak begitu bagus. Setelah jenazah menjadi abu, maka keluarga akan menempatkan abu di rumah abu atau melarungnya di laut.

 

3. Tiwah – Suku Dayak Kalimantan Tengah

Photo Via : sayanusantara.blogspot.co.id

Berbeda dengan di Bali yang upacaranya bisa dilakukan oleh siapa saja, di suku Dayak Kalimantan Tengah tidak demikian. Biasanya upacara yang disebut Tiwah ini hanya dilakukan kepada kepala suku saja. Jika kepala suku meninggal, jenazah akan dibakar bersama dengan anggota suku lain yang telah dikubur. Biasanya tulang-tulang dari masyarakat ini akan diikut sertakan dalam upacara tiwah ini. Upacara ini menjadi potensi wisata lain yang dimiliki oleh Kalimantan Tengah selain kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Namun sayangnya, tak setiap saat upacara ini dilakukan, karena itulah mengapa saat akan ada upacara tiwah, banyak turis dari berbagai daerah maupun luar negeri datang untuk menyaksikan prosesi sakral ini.

 

4. Sirang-Sirang – Suku Batak Marga Sembiring

Photo Via : karosiadi.blogspot.co.id

Suku Batak di tanah karo ini ternyata juga melaksanakan prosesi kremasi atau pemabakaran jenazah bagi keluarga yang telah meninggal. Prosesi ini dilakukan karena adanya pengaruh Hindu yang masuk dari beberapa daerah di Jawa. Tradisi ini pada akhirnya mengakar dan dilaksanakan sebagai prosesi akhir dari kehidupan manusia di bumi ini. Sirang-sirang dilakukan oleh satu orang dukun dan dibantu oleh empat orang pembakar atau sindapur. Prosesi ini biasnaya dilakukan di lapangan atau tempat yang berdekatan dengan sungai. Setelah prosesi pembakaan selesai, maka abunya akan dilarung ke sungai. Selain itu para sindapur juga akan dimandikan agar bersih dari sisa-sisa mayat. Pembersihan ini dilakukan agar roh dari mayat tidak mengganggu sindapur yang melaksanakan tugasnya.

 

5. Memotong Ruas Jari Tangan – Suku Dani

Photo Via : radaronline.co.id

Suku Dani memiliki prosesi berkabung yang cukup banyak. Biasanya jika ada sanak keluarga yang meninggal, maka beberapa anggota keluarganya akan berkubang di lumpur. Hal itu dilakukan sebagai ungkapan duka cita yang mendalam. Selain itu mereka juga memotong ruas jari tangan sebagai ungkapan rasa sakit yang teramat dalam. Setelah prosesi ini selesai, jenazah akan diletakkan diatas bea atau singgasana. Biasanya bea diletakkan di tengah kampung. Saat tubuh dibakar, orang-orang akan mengelilingi jenazah sambil menagis sekencang-kencangnya. Pada saat upacara ini selesai para penduduk akan melaksanakan prosesi bakar batu dan makan bersama setelah melalui rasa duka yang mendalam.

 

Nah, itulah lima upacara pemabakaran jenazah yang ada di Indonesia.

 

Baca Juga :
Pesona Keindahan “Negeri di Atas Awan” di Indonesia
5 Peristiwa perang besar yang pernah terjadi di Indonesia
Orang-orang Indonesia ini sangat terkenal dan berpengaruh di dunia internasional pada jamannya

Artikel Terkait